Responsive Ads Here

Jumat, 26 Oktober 2018

Sejarah dan Sebab Terjadinya Perang Teluk 1

Ketika suatu negara telah mengesampingkan nilai perdamaian dengan negara lain dalam menyelesaikan problem yang menghampiri, pernyataan perang adalah jalan yang dipilih oleh negara untuk tetap mengejar ambisinya.

Maka, terjunlah negara tersebut dalam pahitnya masa-masa perang yang menyeret warga negara di dalamnya ke dalam penderitaan. Meletusnya perang antara Irak dan Iran pada 22 September 1980 menjadi perhatian penting karena menimbulkan kecemasan global. Akibat yang bisa ditimbulkannya merupakan permasalahan serius bagi negara-negara lain. Seperti yang telah diketahui, baik Irak maupun Iran terletak dalam kawasan Timur Tengah yang memiliki potensi Sumber Daya Alam berupa minyak yang menjadi kebutuhan pokok bagi banyak bangsa lain. Pecahnya peperangan tidak menutup kemungkinan untuk terlibatnya negara-negara Arab di sekitarnya dan mengakibatkan terhenti atau terganggunya arus minyak yang memberikan penghidupan bagi beberapa negara industri barat dan Jepang. Selain hal itu, Amerika Serikat dan Uni Soviet yang berkedudukan sebagai negara superpower dapat melibatkan diri dalam peperangan tersebut dengan mengobarkan konfrontasi bersenjata yang sudah pasti akan memunculkan dampak buruk dan semakin alotnya peperangan. Kawasan Teluk Parsi menyimpan kekayaan minyak yang sangat melimpah sehingga menimbulkan ketergantungan negara industri termasuk bangsa Barat dan Jepang tersebut. Dan kini, kawasan Teluk Parsi menjadi pusat perimbangan kekuatan global.

A. Sebab-Sebab Meletusnya Perang Teluk 1
1. Sebab Umum
a. Antara bangsa Arab dan bangsa Parsi tidak dapat menerima keunggulan atau dominasi yang lain. Kedua negara selalu ada persaingan dan ketegangan.
b. Permasalahan dalam hal minoritas etnis. Pada zaman Shah Iran mendukung perjuangan otonomi suku Kurdi di Irak, sedangkan Irak sendiri mendukung minoritas Arab di Iran yang sedang memperjuangkan kebebasan lebih besar atau bahkan pemisahan.
c. Perbedaan dalam hal orientasi politik luar negeri. Irak adalah pro-Uni Soviet, sedangkan Iran adalah pro-Barat.
d. Irak berusaha untuk merebut kembali beberapa wilayah Arab yang telah direbut dan dikuasai oleh Iran (Shatt al-Arab menurut perjanjian Algiers tahun 1975).

2. Sebab Khusus
a. Munculnya rezim kekuasaan Ayatullah Khomeini. Sikap rezim baru di Iran ini sejak awal berambisi untuk mengekspor revolusi islamnya ke beberapa negara lain termasuk Irak yang menjadi sasaran pertamanya karena di Irak minoritas Sunni menguasai dan menindas mayoritas Syiah dan minoritas Kurdi yang secara etnik dan linguistik dekat dengan bangsa Parsi.
b. Dilancarkannya serangan granat pada 1 April 1980 terhadap wakil PM Irak Tariq Aziz, yang diduga bertanggung jawab atas aksi-aksi subversi yang dilakukan terhadap Iran, dan akibat serangan beberapa hari kemudian terhadap iring-iringan jenazah beberapa ajudan Azis yang tewas dalam serangan tersebut. Tariq Azis sendiri berhasil selamat dalam penyerangan itu.
c. Presiden Irak, Saddam Hussein melakukan pengusiran ribuan orang keturunan Iran dan melancarkan serangan sengit yang ditujukan kepada Ayatullah Khomeini sebagai pembalasan kepada Iran yang diduga melakukan penyerangan terhadap Tariq Azis. Saddam Hussein menuntut Iran untuk merundingkan kembali Perjanjian Algiers dan mengembalikan tiga pulau kecil di Selat Hormuz yang didudukinya sejak tahun 1971 kepada kedaulatan Arab. Sedangkan pada 9 dan 10 April 1980, Menlu Iran Gotbzadeh menanggapi tindakan Saddam tersebut dengan berjanji akan menjatuhkan rezim Baath di Baghdad dan memutuskan hubungan diplomatik dengan Irak.
d. Irak dan Iran saling menempatkan pasukannya masing-masing pada daerah perbatasan dalam jumlah yang cukup banyak.

B. Kekuatan Masing-Masing Pihak Dalam Peperangan
1) Kekuatan Irak
Dilihat dari kekuatan militer yang dimiliki, posisi Irak jauh lebih canggih dalam hal persenjataan dan finansial untuk mendukung jalannya perang. Irak tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkan pasokan persenjataan. Berkat solidaritas yang kuat antara Irak dengan negara-negara Arab lainnya, Irak menjadi lebih mudah untuk mendapat bantuan dari Arab Saudi, Yordania, dan Oman. Akan tetapi, bantuan dari beberapa negara Arab tersebut tidak mampu untuk menggantikan senjata buatan Uni Soviet. Irak mengajukan permintaan kepada Uni Soviet untuk mengirim senjata-senjata baru, namun Uni Soviet menolaknya. Walaupun demikian, suplai senjata biasa berjalan terus dan dengan persetujuan dari Raja Hussein yang secara terang-terangan mendukung Irak, dibongkar di Aqaba dan diangkut melalui darat ke Irak. Menurut Foreign Report, lebih dari 45 kapal suplai membongkar muatannya sebanyak 200.000 ton di Aqaba. Dengan demikian, maka Irak dapat meningkatkan serangan-serangannya dan berhasil maju terus meskipun secara lamban dan tapak demi setapak. Beberapa negara Arab yang ikut membantu Irak juga menyiapkan keuangan untuk persenjataan Irak tersebut. Mereka telah menyiapkan sekitar tiga Milyar Dollar Amerika untuk keperluan senjata Irak. Irak sendiri mempunyai tidak kurang dari 35 Milyar Dollar Amerika dalam bentuk devisa dan ditambah uang dari penghasilan minyak yang dialirkan melalui pipa-pipa minyak yang melewati Suriah dan Turki jumlahnya kira-kira tak kurang dari 1 juta barel per hari.
2) Kekuatan Iran
Dalam perang Irak-Iran, Iran mendapat bantuan militer terbatas dari sejumlah negara seperti Libia, Suriah, Turki, Korea Selatan, Taiwan, dan lain sebagainya. Kekuatan mereka tetap tidak sebanding dengan banyaknya bantuan yang diterima Irak. Awal dari serangan Irak yang secara tiba-tiba, cukup membuat Iran kaget. Tetapi itu tidak berlangsung lama, karena militer mereka cepat bergegas. Angkatan Udara yang mereka miliki didukung oleh pesawat-pesawat pembom phantom untuk membalas serangan dari Irak. Namun, Iran diperkirakan kekurangan kerosene. Karena pendapatannya dari minyak dalam devisa asing menurun, maka Iran terpaksa memakai uang simpanannya yang berjumlah kira-kira 6 Milyar Dollar. Dalam masalah persenjataan Iran sulit mendapatkannya karena terhalang masalah embargo. Dengan keterbatasan peralatan perang, Iran tetap optimis tidak akan kalah melawan Irak. Mereka memakai taktik perang panjang yang bertujuan agar Iran dapat menggulingkan pemerintahan Saddam Hussein. Kekuatan Iran terletak pada Angkatan Udara yang mempunyai peralatan modern dalam jumlah yang besar. Iran mempunyai57 pesawat pengangkut tempur C 130, 250 buah pesawat pembom phantom, 160 buah F 16, 80 buah F 14, 200 buah F 4 yang dilengkapi dengan peluru kendali Phoenix, dan 120 buah F 5. Angkatan darat mereka memiliki 800 tank M60 dan M47 buatan Amerika Serikat. Mereka juga mempunyai 760 buah Chieftank, 250 Scorpion, 1500 Iranian Lion, ketiganya merupakan buatan Inggris. Mereka juga mempunyai tank sedikitnya 3000 buah. Angkatan Laut Iran dipersenjatai dengan pesawat pengintai P36, puluhan kapal patrol, 3 buah kapal selam Tank, 4 destroyer Spruance yang baik untuk mengebom pantai dan juga bagus untuk menghancurkan kapal selam serta satu seri hydroglisseur yang ditahun 1978 jumlahnya melebihi yang dimiliki Angkatan Laut Inggris sehingga mereka bisa mendarat di air yang sedangkal apapun di Teluk Persia.
Pertahanan Iran juga di bantu oleh Pasdaran. Pasdaran lahir berbarengan dengan revolusi Iran. Anggota Pasdaran diambil dari sukarelawan yang sudah dewasa baik laki-laki maupun wanita. Sebelum perang kekuatan Pasdaran tidak begitu besar. Perdana Menteri Bazargan mencoba menghapus para tentara itu tetapi tidak berhasil. Kemudian Bani Sadr memegang kendali Pasdaran lalu membubarkan tetapi gagal juga. Perang ini membuat jumlah Pasdaran empat kali lipat lebih besar. Senjata yang dipegang Pasdaran hanya berupa senjata yang ringan seperti senapan mesin, bazooka dan sebagainya. Senjata Pasdaran dibantu oleh rakyat yang membentuk sejenis organisasi pertahanan sipil (bassif), dewan-dewan desa dan kota (shoura mahali) yang dibentuk atas prakasa almarhum Ayatola Teleghani yang bertugas mengatasi masalah-masalah sosial. Dewan-dewan pabrik, serikat-serikat buruh dan para petani juga ikut membantu dalam peperangan ini.

C. Berlangsungnya Perang Irak-Iran
Perang antara Irak dan Iran ini berlangsung selama 8 tahun.Perang tersebut terbagi dalam beberapa alur atau periode tahun mulai dari penyerbuan Irak pada tahun 1980 sampai gencatan senjata yang berhasil dilakukan untuk mengakhiri perang pada 20 Agustus 1988. Pada dasarnya terdapat tiga hal penting yang dapat diambil dari peperangan tersebut. Pertama, tidak ada pihak yang menjadi pemenang secara mutlak dalam perang Irak-Iran. Irak mendapat separuh kemenangan, sedangkan Iran menderita setengah kekalahan. Kedua, prediksi Irak yang memperkirakan Perang Teluk 1 hanya berlangsung singkat ternyata meleset. Peperangan berlarut-larut sampai 8 tahun. Iran yang semula diremehkan ternyata memberikan perlawanan yang cukup sengit sehingga Iran yang semula berada di pihak defensive kemudian menjadi ofensif. Ketiga, akibat Perang Teluk 1 berdampak pada Irak berupa hutang luar negeri untuk biaya dan ganti rugi perang. Dampak ini menjadi pemicu dan menjadi salah satu faktor terjadinya Perang Teluk II antara Irak melawan Kuwait.

D. Intervensi Asing Dalam Perang Teluk 1
Semakin lama berlangsungnya perang Irak dan Iran, maka semakin besar dan lebih berbahaya, bahwa beberapa negara Teluk yang lain akan terseret. Negara-negara Arab kawasan itu pada umumnya memiliki keberpihakan kepada Irak sebagai negara yang memperjuangkan kepentingan-kepentingan Arab. Termasuk juga Yordania melalui Raja Hussein yang paling tegas mendukung Irak dan menjanjikan bantuan kepadanya. Iran dapat merasa terpojok dan menyerang ladang-ladang minyak mereka dan menutup Selat Hormuz. Ketika instalasi-instalasi minyak Iran dan Irak terbakar menjadi sangat jelas bahwa kedudukan Kuwait, Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab sangat rawan.
Mengingat semua hal itu, Amerika Serikat dan Uni Soviet tidak saja sekedar mengikuti berjalannya peperangan dengan seksama, akan tetapi juga mengambil langkah-langkah untuk mengamankan kepentingan masing-masing dan mungkin juga memperbaiki kedudukan masing-masing. Bagi Washington, peperangan ini merupakan suatu peluang untuk dapat memulihkan kedudukannya di kawasan. Demikian juga dengan Uni Soviet, dapat terbuka kesempatan untuk membantu unsur-unsur kiri di Irak maupun di Iran bila terjadi perebutan kekuasaan akibat kekalahan dalam peperangan ini. Keberhasilan golongan kiri untuk merebut kekuasaan di salah satu negara akan memperbaiki kedudukan Uni Soviet di kawasan, terutama jika Uni Soviet berhasil menempatkan orang-orangnya pada puncak kekuasaan.Namun, Amerika Serikat dan Uni Soviet telah sepakat untuk tidak turun tangan dalam peperangan tersebut. Hal itu dilakukan karena menyadari bahwa intervensi yang satu akan memancing intervensi yang lain maka akan menimbulkan konvrontasi bersenjata antara mereka. Untuk selanjutnya, kedua superpower itu berkepentingan bahwa peperangan ini tetap terbatas pada kedua negara dan tidak ada salah satu pihak yang keluar sebagai pemenang.
Tetapi, pada suatu saat godaan bagi Uni Soviet untuk turun tangan bisa menjadi terlalu besar. Dengan menguasai kawasan Teluk Parsi, Uni Soviet dapat menundukkan negara-negara Eropa Barat dan Jepang. Washington telah memperhitungkan kemungkinan ini, kemudian mengambil langkah-langkah untuk mencegahnya menjadi kenyataan. Semenjak pergolakan di Iran, menyusul invasi Uni Soviet ke Afghanistan, Presiden Carter menyatakan kawasan Teluk Parsi sebagai kepentingan vital Barat dan menegaskan tekadnya untuk membelanya dengan segala cara, termasuk cara militer. Sehubungan dengan itu, pembentukan Pasukan Gerak Cepat (Rapid Deployment Force) dipercepat. Pasukan ini pada mulanya dimaksudkan untuk mencegah invasi Uni Soviet ke kawasan. Uni Soviet sendiri telah memusatkan 24 divisi di perbatasan Iran-Uni Soviet, hal ini diketahui Washington. Untuk memperbaiki logistik bagi Pasukan Gerak Cepat tersebut, Amerika Serikat meningkatkan pangkalan laut dan udaranya di Diego Garcia, menempatkan tujuh kapal penuh muatan senjata dan suplai di situ, dan merundingkan fasilitas-fasilitas dengan Oman, Somalia, dan Kenya.
Namun, Pasukan Gerak Cepat tidak mampu untuk menumpas invasi Uni Soviet ke kawasan. Pasukan Gerak Cepat pada mulanya dimaksud untuk menunjukkan kepada lawan dan kawan bahwa pasukan-pasukan Uni Soviet bila melintas perbatasan Iran akan ditembak dan bahwa suatu usaha Uni Soviet untuk menguasai kawasan Teluk Parsi akan mengobarkan suatu konfrontasi superpower yang mudah meningkat menjadi suatu konfrontasi nuklir dengan segala akibatnya. Akan tetapi, strategi deterrence ini bisa gagal. Uni Soviet dalam keadaan tertentu dapat menyerbu Iran dengan harapan bisa menguasainya dengan cepat sebelum Amerika Serikat dapat melakukan sesuatu untuk menggagalkannya. Walaupun kemungkinan itu tidak besar, karena persiapan invasi memakan waktu dan dapat diketahui sehingga Amerika Serikat dapat terlebih dahulu mengerahkan Pasukan Gerak Cepatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar